Sang Quthb itu bagaikan singa, berburu merupakan urusannya; yang lainnya -para pejalan- memakan sisa-sisanya.
Sejauh kemampuanmu, upayakanlah memuaskan sang Quthb, sehingga dia mendapat kekuatan dan memburu binatang-binatang buas.
Ketika dia sakit, mereka jadi tak ternafkahi, karena semua makanan yang disediakan bagi kerongkongan datang dari tangan sang Akal.
Meningat pengalaman ruhaniyah yang terjadi pada orang-orang lain hanyalah sisa-sisanya, maka camkanlah hal ini; jika hatimu juga mengidamkan hidangan ruhaniyah.
Dia bagaikan sang Akal, sedangkan para pejalan itu bagaikan anggota-anggota tubuh: pengaturan tubuh itu bergantung kepada sang Akal.
Kelemahan sang Quthb terletak pada tubuhnya, dan bukan bersifat ruhaniyah; kelemahan itu pada bahtera, bukannya pada Nuh.
Sang Quthb berputar mengedari dirinya sendiri, sementara di sekitarnya berputar benda-benda angkasa.
Ulurkanlah bantuan untuk memperbaiki jasmaninya, jadilah pelayannya yang terkasih, dan hambanya yang patuh.
Sejatinya, bantuan itu suatu keuntungan bagimu, bukan baginya; Allah telah bersabda: "Jika engkau menolong Allah, maka engkau akan ditolong."[1]
Catatan:
[1] QS Muhammad [47]: 7.
No comments:
Post a Comment